Belum Waktunya…
“Terkadang sikap dari orang tua yang
'terlampau bebas' membuat mereka berani mengambil keputusan tanpa memikirkan
resikonya. Jelas-jelas membawa kendaraan sebelum memiliki SIM sangat berbahaya.
Apalagi mereka adalah anak sekolahan seperti anak Bapak dan Ibu ini,” ucap Pak
Polisi sambil menatap pria berumur sekitar empat puluhan yang sedang memeluk
istrinya. Sesekali ia mengusap-usap pundak istrinya yang sedang terisak itu.
Raut wajah pria itu menggambarkan
penyesalan yang sangat mendalam.
“Maaf, Pak. Kami sadari kami telah
lalai sebagai orang tua,” ucapnya dengan nada suara yang sedikit bergetar.
***
“Wah, motor baru! Makasih, Pa, Ma.”
Senyum di bibir Vero tak
henti-hentinya tersungging saat memerhatikan motor gede yang baru saja
dibelikan kedua orang tuanya.
“Papa kan sudah bilang sejak lama,
kalau proyek Papa berhasil, Papa akan belikan motor baru untuk kamu. Lagian, motor
ini motor impian kamu, kan?”
Vero mengangguk-anggukkan kepalanya
tanpa mengalihkan pandangannya dari kuda besi di hadapannya. Ia masih terkejut
sekaligus senang saat pulang sekolah tadi langsung disambut dengan motor
impiannya itu. Masih diingat betul saat Vero berlari menuju Papanya dengan
tergesa-gesa sambil membawa katalog tentang motor-motor gede dua bulan lalu.
“Pa, ada motor keluaran terbaru nih, Pa.”
Papanya berhenti mengetik di keyboard computer dan menatap Vero. “Mana?
Coba Papa liat.”
Dilihatnya katalog tersebut oleh Papanya sambil sesekali manggut-manggut.
Kesempatan itu pun digunakan Vero untuk menunjuk motor yang ingin ia miliki.
“Nah, motor yang mau Vero beli yang ini nih, Pa.”
“Kamu kan belum tujuh belas tahun, Ver. Yakin mau ganti sama motor gede
ini?”
Vero terdiam sejenak, tetapi ia mengingat teman-temannya juga ada yang
sudah memiliki motor gede meskipu belum memiliki SIM.
“Temen-temen Verro juga ada yang udah punya kok, Pa. Mereka juga kan
belum punya SIM.”
“Nggak apa-apa, lah. Selama kamu nggak ugal-ugalan dan pake helm, kamu
nggak akan dapet masalah, kok.” Mamanya yang baru datang dengan membawa nampan berisi
kopi putih untuk Papanya memberikan dukungan kepada puteranya itu.
“Tapi bukannya itu agak bahaya, ya?”
“Udahlah, Pa, Vero udah gede dan lagipun Papa sama Mama juga nggak bakal
sempet nganterin Vero kemanapun dia mau pergi, kan? Biarin lah Vero nikmatin
hobinya di masa muda.”
“Hmm… kita lihat gimana proyek Papa nanti, ya.”
Begitu kiranya pembahasan terakhir
Vero dengan kedua orang tuanya tentang motor gede yang ia inginkan. Meski ia
tak pernah terlalu memaksakan Papanya, tetapi ia tak menyangka orang tuanya
akan membelikan motor baru secepat ini.
“Kalau begini, Vero bisa langsung pamer
nih sama temen-temen Vero,” ucap Vero dengan mata yang berbinar-binar. Papa dan
Mamanya hanya tertawa mendengar ucapan putera semata wayang mereka.
***
“Weiy! Motor baru nih, Bro! Keren
banget. Akhirnya lo bisa dapetin juga nih motor.”
Rendi, teman satu geng Vero langsung
berteriak saat Vero baru sampai di base
tempat mereka biasa berkumpul. Teman-temannya yang lain juga langsung mengerubungi
Vero sambil memuji dan memegangi motor barunya itu.
“Sayang banget tapi Bro nggak bisa lo
bawa buat ngecengin cewek-cewek di sekolah,” ucap yang lain sambil
terkekeh-kekeh.
“Iya, peraturan sekarang bikin nggak
bebas. Masa kita nggak boleh bawa kendaraan ke sekolah, sih!” gerutu salah
seorang temannya sambil melipat kedua tangannya.
Anak lelaki lainnya menyahut, “Eh,
tapi ada bagusnya keles itu aturan.
Gue kan setiap hari jadi dianter bokap. Nggak ngeluarin biaya buat beli bensin
dan ngurangin polusi udara juga.”
“Ah, itu mah emang elonya aja yang
pelit, Di.”
Vero mengibas-ngibaskan tangannya. “Emang
sayang, sih. Tapi bodo' lah, yang penting kan masih banyak kesempetan gue di
luar sekolah, hehe,” Vero bercanda. Meskipun Vero suka dengan motor gede,
tetapi ia tak pernah berniat menggunakan motornya untuk mendapat perhatian
cewek lain. Lagipula jika ia memiliki pacar, sepertinya ia akan lebih memerhatikan
motornya daripada pacarnya. Jadi, percuma saja ia memiliki pacar, pikirnya.
“Eh, by the way tanggal dua puluh empat itu hari apa, ya?” Vero bertanya
pada temannya.
“Hm...” Hendi, salah satu temannya
yang tidak terlalu fokus dengan motor baru Vero –seperti teman-teman yang
lainnya– menanggapi Vero. Ia mengerutkan keningnya sambil mengingat-ingat.
“Sekarang kan dua puluh dua. Jadi…”
“… lusa kayaknya, Ver,” ucap Hendi.
Setelah mendengar jawaban dari Hendi,
Vero terlihat sedikit tersentak. Ia menghembuskan napasnya dengan perasaan lega.
“Oh, untung aja masih sempet,” gumam
Vero
***
Vero memencet tombol di layar
ponselnya. Setelah mendapatkan nomor yang dicari, ia menempelkan ponsel itu ke
telinganya. Terdengar bunyi “tut… tut…” untuk beberapa detik. Kemudian, suara
wanita dari seberang telepon terdengar.
“Kenapa, Sayang?”
“Mah, inget kan besok hari apa?”
“Hmm... Besok? Minggu?”
“Tanggal berapa, Ma?” Vero bertanya
sekali lagi. Ia jadi seperti sedang mewawancari seseorang saat itu.
“Dua puluh empat? Ada apa, Vero?”
Vero mendesah. Lagi-lagi Mama lupa
ulang tahun Papa, kebanyakan shopping
sih!.
“Ulang tahun Papa, Mah. Jangan bilang
Mama lupa lagi.”
“O, oh, iya, tentu aja Mama inget,
dong. Terus kamu mau apa?”
Vero menjelaskan kalau ia ingin
membeli hadiah untuk ulang tahun Papanya bersama Mamanya. Saat Mamanya menyuruh
ia untuk pergi sendiri dengan motor barunya, Vero memberikan alasan kalau ia sedang
tidak enak badan.
“Dari semalem kepala Vero terasa
pusing, Ma. Kayaknya ketularan flu dari temen nih.”
“Hmm… bagaimana ya, Ver. Mama juga
ada urusan kantor yang mesti cepet-cepet diselesaikan, nih. Gimana kalau besok
siang aja kita belinya?”
Mamanya lagi-lagi tidak ingat kalau
besok siang Papanya akan pergi untuk urusan proyek. Lagipula urusan kantor yang
Mamanya barusan ucapkan hanyalah alasan klise. Ia tahu benar, Mamanya hanya
akan menghabiskan waktu untuk shopping.
“Yaudah deh, Vero berangkat sendiri
aja.”
Tut.
Vero menghembuskan napas
kencang-kencang dan menjatuhkan dirinya di sofa. Mau bagaimana lagi, ia mesti pergi
sendiri meskipun ia merasa tidak enak badan. Ia hanya ingin merayakan ulang
tahun Papanya dan memberikan hadiah karena Papanya juga sudah membelikan Vero
motor baru.
Segera setelah bersiap-siap, Vero pun
mengendarai kuda besinya menuju pusat perbelanjaan di daerah Jakarta Selatan.
Di perjalanan, tanpa ia sangka, sedang ada razia. Dari kejauhan Vero melihat
beberapa pengendara motor yang telah ditilang oleh petugas kepolisian.
Penyebabnya ada yang karena tidak memakai helm, berkendara dengan lebih dari
dua orang, dan Vero tahu, ia juga akan segera tertangkap karena ia tidak
memiliki SIM.
Rasa takut segera melanda dirinya dan
kepalanya pun mulai terasa semakin berat. Vero segera mempercepat laju motornya
untuk menghindari para polisi. Ia tak peduli dengan keramaian maupun
keselamatan pengendara lainnya di jalan Yang paling penting baginya saat itu
ialah selamat dari razia polisi dan secepatnya sampai di tempat tujuan. Akan
tetapi, tangannya tiba-tiba terasa kaku dan ia pun kehilangan kendali stang
motornya. Alhasil, sedetik kemudian, motor Vero tergelincir. Kecelakaan itu
terjadi begitu cepat hingga Vero merasakan tubuhnya membentur sesuatu dengan
keras dan ia pun pingsan.
***
Sayup-sayup terdengar suara tangisan
di telinga Vero. Perlahan, ia membuka kedua matanya dan setelah beberapa saat,
ia menyadari suara yang ia dengar barusan berasal dari Mamanya yang menangis di
sampingnya sambil memegangi lengan Vero. Ia juga menyadari bahwa ia sedang
berada di rumah sakit setelah sebelumnya berpikir ia mungkin tidak akan selamat
dan telah berada di dunia lain.
“Ma… ma?” Vero mengedarkan pandangan
ke sekitar. Ia menemukan Papa dan beberapa orang temannya juga berada di
dekatnya.
Mendengar suara Vero, tangis Mamanya
pun pecah dan tangan lembut wanita itu mengusap lembut wajah Vero yang di
beberapa bagian telah ditempel pelester dan perban.
“Syukurlah kamu udah bangun, Sayang.
Maafin Mama ya, Ver. Gara-gara Mama kamu mesti sakit begini. Mama udah takut
banget akan kehilangan anak Mama satu-satunya.”
Papanya juga mendekati Vero. Terlihat
sedikit air mata menggenang di kedua matanya. “Mulai sekarang kamu jangan pergi
kemana-mana lagi sendiri ya, Vero. Mama dan Papa akan selalu siap nemenin kamu
kemanapun kamu mau pergi. Dan…”
“… jangan takut kalau nanti kelihatan
jadi seperti anak mami. Kamu tetep anak Papa dan Mama yang paling berani, kok,”
Papanya melanjutkan ucapannya untuk menenagkan Vero seakan tahu perasaan Vero
sebagai anak laki-laki.
“Iya, Bro. Tenang aja, kita nggak
akan ngecap lo kayak gitu. Keselamatan lo yang paling penting. Lagian, kejadian
hari ini bikin kita-kita sadar kalau kita sebisa mungkin jangan bawa kendaraan
sebelum waktunya. Kita juga masih sekolah, kok. Wajar aja kalau masih ditemenin
orang tua,” Hendi menambahkan.
“Dan juga untungnya lo make helm SNI,
Ver. Kalo enggak wajah rupawan lo udah berubah bentuk jadi nggak karuan deh
tuh,” timpal yang lain.
Mendengar ucapan kedua orang tua dan
dukungan teman-temannya, Vero pun tertawa kecil meski ia masih merasakan sakit
di sekujur tubuhnya. Saat ini ia tak memedulikan bagaimana keadaan motornya.
Vero bersyukur karena ia masih diberikan keselamatan oleh Tuhan, ditambah lagi
kedua orang tuanya berjanji akan mengantar Vero kemana pun ia pergi. Itu
berarti hubungan Vero dan orang tuanya akan semakin erat.
Ah iya! Karena ia diantar orang
tuanya, ia juga tak perlu lagi harus repot-repot menghindari polisi karena
belum memiliki SIM.
Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’ #SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Hoda Motor dan Nulisbuku.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar