"Rex, bisakah kau mendonorkan darahmu pada Audy?"
Rex
terdiam.
Terdengar
suara napas yang berat, seolah menggambarkan keputusasaan dan kesedihan mendalam
dari seberang telepon.
"Bisakah untuk sesaat kau menjadi sosok kakak bagi Audy? Lakukanlah ini untuk mama, Rex. Mama memang telah tiada, tapi ia
mengorbankan nyawanya demi Audy. Apakah kau ingin membiarkan perjuangan mamamu
sia-sia?"
Mendengar
mamanya disebut, seketika hati Rex terasa seakan disayat.
"Jangan
membawa mama dalam hal ini! Audy pantas menerimanya!"
Tut.Tut.
...
Ya,
Audy dan Rex memang bersaudara. Akan tetapi, Rex tak pernah menganggap ia
memiliki seorang adik. Ia membenci Audy sejak lahir; saat usianya tujuh tahun,
sejak Tuhan memilih untuk menolong Audy daripada menyelamatkan mamanya.
Bahkan saat papanya meneleponnya kemarin malam.
"Halo, Rex. Audy kecelakaan."
"..."
"Ia mengalami pendarahan, Rex, dan ia membutuhkan pendonor golongan darah O- sedangkan rumah sakit kehabisan stok darah O-."
"..."
"Rex? Rex? Apa kau mendengar
Papa?"
"Oh. Hm."
"Papa tahu kau berdarah O-. Maka dari
itu, Papa minta tolong padamu unt-"
"Tidak, Pa."
"Rex!"
"Golongan darahku bukan O-. Saat ini,
aku juga sedang sibuk."
"Rex! Audy benar-benar menyayangimu."
"..."
Setelah
memutuskan telepon, Rex terduduk. Kepalanya dibenamkan di tangannya.
"Saat ini Audy benar-benar
membutuhkanmu, Rex. Mama membutuhkanmu..."
***
"Ah
suster, sudah berapa hari sejak operasiku?" tanya Audy pada suster yang
baru saja memberikan satu suntikan di lengan kirinya.
Suster
itu berpikir. "Hmm... Sekitar enam hari."
"Sudah
hampir seminggu tapi kenapa orang itu belum muncul juga?" tanya Audy pada
dirinya sendiri.
"Mungkin
pendonor itu sudah menemui papamu dan karena ia sibuk, ia tidak bisa menemuimu.
Sudah kukatakan padamu 'kan, pendonor itu sangat tampan dan berpenampilan rapi
dan… bisa jadi dia adalah seorang selebriti!" ucap suster itu sambil
tersipu.
"Ah,
melihat wajah suster yang sebahagia itu betul-betul membuatku ingin bertemu
dengannya. Pasti dia orang yang sangat tampan. Hmm... dia juga pasti lebih
tampan dari Kak Rex," ucap Audy dengan iri.
Klek.
Pintu kamar terbuka. Suster dan Audy pun menoleh. Audy terkejut setelah melihat
siapa yang masuk.
"Kak
Rex!"
Suster
itu tak kalah terkejutnya dengan Audy. "Oh, bukankah-"
"Selamat
pagi, suster. Wow, meskipun kau sudah bekerja sangat keras, tetapi wajahmu
masih tetap cantik. Kau pasti memiliki wajah yang awet muda. Aku sangat
berterima kasih kau telah bekerja keras merawat adikku dan... aku ingin berbicara
padanya berdua saja. Jadi...” ucap Rex sambil menatap suster itu dan tersenyum.
“Oh,
umm... kalau begitu, saya... permisi."
Audy
yang polos itu pun sangat gembira melihat kakaknya datang.
"Ah,
Aku senang sekali kakak ada di sini. Bagaimana kabarmu? Kau tahu kak, suster
bilang seorang pria tampan telah mendonorkan darahnya padaku. Ah, aku ingin
sekali bertemu dengan orang itu dan kalau dia mau, aku akan buatkan beratus box
kue cokelat kesukaanmu karena..." Audy menghentikan ucapannya saat ia
menatap Rex.
"Aku
akan memakannya."
“…”
"Aku
akan memakan kue cokelatmu. Mulai dari sekarang," ucap Rex sambil
tersenyum.
Audy
masih tak percaya. Sejak pertama kali membuat kue cokelat untuk Rex empat tahun
lalu, baru kali ini Rex mengatakan hal itu.
"Sebetulnya
aku pernah memakan kue cokelat buatanmu dan itu sangat enak."
Ucapan
Rex membuat Audy tersenyum. Kini senyuman Audy terlihat berbeda. Entah karena
Rex sebelumnya tidak pernah sedekat ini melihat adiknya tersenyum entah memang
saat itu Audy terlihat... sangat manis. Akan tetapi, satu hal yang saat itu Rex
sadari, senyuman itu... senyuman yang sangat Rex rindukan sejak lama. Papanya
benar. Semua orang benar. Audy memang memiliki kesamaan dengan mamanya. Wajahnya,
kue cokelat buatannya, senyumannya. Hal itu pun kini membuat Rex merasa seakan
ia sedang bersama mamanya.
Tiba-tiba,
air mata menetes dari pipi adiknya itu.
"Ah,
kenapa kau menangis?"
Tanpa
terganggu oleh air mata yang jatuh itu, Audy terus menatap Rex.
"Tidak
tahu. Aku harusnya merasa bahagia saat kau bilang kau akan mulai memakan kue
cokelatku, tetapi aku malah menangis seperti ini. Terima kasih, Kak Rex."
Air mata Audy mulai menetes dengan deras.
"Hei,
kau tak perlu menangis. Ayolah, kenapa harus menangis di saat bahagia seperti
ini? Kau baru saja mengalami semua hal indah. Kemarilah." Tanpa ragu, Rex
menarik Audy ke dalam pelukannya. Saat itu, ia tak ingin melihat Audy menangis.
"Cup,
cup, sudahlah. Lagipula, sudah kukatakan padamu, aku sudah pernah memakan kue
cokelatmu. Jadi kau tak perlu menangis lagi, nanti wajahmu akan cepat tua,"
ucap Rex sambil menepuk pelan punggung Audy.
Audy
langsung melepaskan pelukan Rex. Ia memegangi kedua pipinya. Saat itu juga,
Audy berhenti menangis.
"Oh,
apakah menangis akan membuatku cepat tua?" tanya Audy dengan raut wajah
yang khawatir.
Rex
mengangguk.
"Oh
tidak!" Audy cepat-cepat mengusap air matanya. Rex pun tertawa kecil
melihat tingkah adiknya itu.
"Oh
iya Kak Rex, aku punya cerita tentang teman-temanku. Kau tahu kan aku pernah
mengatakan padamu bahwa mereka sangat mengidolakanmu. Ah, ada gadis yang
bernama Sherly, dia..." Audy pun mulai bercerita dengan semangat.
"Papa benar, aku tidak perlu menyalahkan Tuhan karena
mengambil mama sebab aku masih memiliki sesuatu yang paling berharga yaitu... Audy,” ucap
Rex dalam hati.

