Minggu, 01 November 2015

Belum Waktunya



Belum Waktunya…

“Terkadang sikap dari orang tua yang 'terlampau bebas' membuat mereka berani mengambil keputusan tanpa memikirkan resikonya. Jelas-jelas membawa kendaraan sebelum memiliki SIM sangat berbahaya. Apalagi mereka adalah anak sekolahan seperti anak Bapak dan Ibu ini,” ucap Pak Polisi sambil menatap pria berumur sekitar empat puluhan yang sedang memeluk istrinya. Sesekali ia mengusap-usap pundak istrinya yang sedang terisak itu.
Raut wajah pria itu menggambarkan penyesalan yang sangat mendalam.
“Maaf, Pak. Kami sadari kami telah lalai sebagai orang tua,” ucapnya dengan nada suara yang sedikit bergetar.
***

“Wah, motor baru! Makasih, Pa, Ma.”
Senyum di bibir Vero tak henti-hentinya tersungging saat memerhatikan motor gede yang baru saja dibelikan kedua orang tuanya.
“Papa kan sudah bilang sejak lama, kalau proyek Papa berhasil, Papa akan belikan motor baru untuk kamu. Lagian, motor ini motor impian kamu, kan?”
Vero mengangguk-anggukkan kepalanya tanpa mengalihkan pandangannya dari kuda besi di hadapannya. Ia masih terkejut sekaligus senang saat pulang sekolah tadi langsung disambut dengan motor impiannya itu. Masih diingat betul saat Vero berlari menuju Papanya dengan tergesa-gesa sambil membawa katalog tentang motor-motor gede dua bulan lalu.

“Pa, ada motor keluaran terbaru nih, Pa.”
Papanya berhenti mengetik di keyboard computer dan menatap Vero. “Mana? Coba Papa liat.”
Dilihatnya katalog tersebut oleh Papanya sambil sesekali manggut-manggut. Kesempatan itu pun digunakan Vero untuk menunjuk motor yang ingin ia miliki. “Nah, motor yang mau Vero beli yang ini nih, Pa.”
“Kamu kan belum tujuh belas tahun, Ver. Yakin mau ganti sama motor gede ini?”
Vero terdiam sejenak, tetapi ia mengingat teman-temannya juga ada yang sudah memiliki motor gede meskipu belum memiliki SIM.
“Temen-temen Verro juga ada yang udah punya kok, Pa. Mereka juga kan belum punya SIM.”
“Nggak apa-apa, lah. Selama kamu nggak ugal-ugalan dan pake helm, kamu nggak akan dapet masalah, kok.” Mamanya yang baru datang dengan membawa nampan berisi kopi putih untuk Papanya memberikan dukungan kepada puteranya itu.
“Tapi bukannya itu agak bahaya, ya?”
“Udahlah, Pa, Vero udah gede dan lagipun Papa sama Mama juga nggak bakal sempet nganterin Vero kemanapun dia mau pergi, kan? Biarin lah Vero nikmatin hobinya di masa muda.”
“Hmm… kita lihat gimana proyek Papa nanti, ya.”

Begitu kiranya pembahasan terakhir Vero dengan kedua orang tuanya tentang motor gede yang ia inginkan. Meski ia tak pernah terlalu memaksakan Papanya, tetapi ia tak menyangka orang tuanya akan membelikan motor baru secepat ini.
“Kalau begini, Vero bisa langsung pamer nih sama temen-temen Vero,” ucap Vero dengan mata yang berbinar-binar. Papa dan Mamanya hanya tertawa mendengar ucapan putera semata wayang mereka.
***

“Weiy! Motor baru nih, Bro! Keren banget. Akhirnya lo bisa dapetin juga nih motor.”
Rendi, teman satu geng Vero langsung berteriak saat Vero baru sampai di base tempat mereka biasa berkumpul. Teman-temannya yang lain juga langsung mengerubungi Vero sambil memuji dan memegangi motor barunya itu.
“Sayang banget tapi Bro nggak bisa lo bawa buat ngecengin cewek-cewek di sekolah,” ucap yang lain sambil terkekeh-kekeh.
“Iya, peraturan sekarang bikin nggak bebas. Masa kita nggak boleh bawa kendaraan ke sekolah, sih!” gerutu salah seorang temannya sambil melipat kedua tangannya.
Anak lelaki lainnya menyahut, “Eh, tapi ada bagusnya keles itu aturan. Gue kan setiap hari jadi dianter bokap. Nggak ngeluarin biaya buat beli bensin dan ngurangin polusi udara juga.”
“Ah, itu mah emang elonya aja yang pelit, Di.”
Vero mengibas-ngibaskan tangannya. “Emang sayang, sih. Tapi bodo' lah, yang penting kan masih banyak kesempetan gue di luar sekolah, hehe,” Vero bercanda. Meskipun Vero suka dengan motor gede, tetapi ia tak pernah berniat menggunakan motornya untuk mendapat perhatian cewek lain. Lagipula jika ia memiliki pacar, sepertinya ia akan lebih memerhatikan motornya daripada pacarnya. Jadi, percuma saja ia memiliki pacar, pikirnya.
“Eh, by the way tanggal dua puluh empat itu hari apa, ya?” Vero bertanya pada temannya.
“Hm...” Hendi, salah satu temannya yang tidak terlalu fokus dengan motor baru Vero –seperti teman-teman yang lainnya– menanggapi Vero. Ia mengerutkan keningnya sambil mengingat-ingat.
“Sekarang kan dua puluh dua. Jadi…”
“… lusa kayaknya, Ver,” ucap Hendi.
Setelah mendengar jawaban dari Hendi, Vero terlihat sedikit tersentak. Ia menghembuskan napasnya dengan perasaan lega.
“Oh, untung aja masih sempet,” gumam Vero
***

Vero memencet tombol di layar ponselnya. Setelah mendapatkan nomor yang dicari, ia menempelkan ponsel itu ke telinganya. Terdengar bunyi “tut… tut…” untuk beberapa detik. Kemudian, suara wanita dari seberang telepon terdengar.
“Kenapa, Sayang?”
“Mah, inget kan besok hari apa?”
“Hmm... Besok? Minggu?”
“Tanggal berapa, Ma?” Vero bertanya sekali lagi. Ia jadi seperti sedang mewawancari seseorang saat itu.
“Dua puluh empat? Ada apa, Vero?”
Vero mendesah. Lagi-lagi Mama lupa ulang tahun Papa, kebanyakan shopping sih!.
“Ulang tahun Papa, Mah. Jangan bilang Mama lupa lagi.”
“O, oh, iya, tentu aja Mama inget, dong. Terus kamu mau apa?”
Vero menjelaskan kalau ia ingin membeli hadiah untuk ulang tahun Papanya bersama Mamanya. Saat Mamanya menyuruh ia untuk pergi sendiri dengan motor barunya, Vero memberikan alasan kalau ia sedang tidak enak badan.
“Dari semalem kepala Vero terasa pusing, Ma. Kayaknya ketularan flu dari temen nih.”
“Hmm… bagaimana ya, Ver. Mama juga ada urusan kantor yang mesti cepet-cepet diselesaikan, nih. Gimana kalau besok siang aja kita belinya?”
Mamanya lagi-lagi tidak ingat kalau besok siang Papanya akan pergi untuk urusan proyek. Lagipula urusan kantor yang Mamanya barusan ucapkan hanyalah alasan klise. Ia tahu benar, Mamanya hanya akan menghabiskan waktu untuk shopping.
“Yaudah deh, Vero berangkat sendiri aja.”
Tut.
Vero menghembuskan napas kencang-kencang dan menjatuhkan dirinya di sofa. Mau bagaimana lagi, ia mesti pergi sendiri meskipun ia merasa tidak enak badan. Ia hanya ingin merayakan ulang tahun Papanya dan memberikan hadiah karena Papanya juga sudah membelikan Vero motor baru.
Segera setelah bersiap-siap, Vero pun mengendarai kuda besinya menuju pusat perbelanjaan di daerah Jakarta Selatan. Di perjalanan, tanpa ia sangka, sedang ada razia. Dari kejauhan Vero melihat beberapa pengendara motor yang telah ditilang oleh petugas kepolisian. Penyebabnya ada yang karena tidak memakai helm, berkendara dengan lebih dari dua orang, dan Vero tahu, ia juga akan segera tertangkap karena ia tidak memiliki SIM.
Rasa takut segera melanda dirinya dan kepalanya pun mulai terasa semakin berat. Vero segera mempercepat laju motornya untuk menghindari para polisi. Ia tak peduli dengan keramaian maupun keselamatan pengendara lainnya di jalan Yang paling penting baginya saat itu ialah selamat dari razia polisi dan secepatnya sampai di tempat tujuan. Akan tetapi, tangannya tiba-tiba terasa kaku dan ia pun kehilangan kendali stang motornya. Alhasil, sedetik kemudian, motor Vero tergelincir. Kecelakaan itu terjadi begitu cepat hingga Vero merasakan tubuhnya membentur sesuatu dengan keras dan ia pun pingsan.
***

Sayup-sayup terdengar suara tangisan di telinga Vero. Perlahan, ia membuka kedua matanya dan setelah beberapa saat, ia menyadari suara yang ia dengar barusan berasal dari Mamanya yang menangis di sampingnya sambil memegangi lengan Vero. Ia juga menyadari bahwa ia sedang berada di rumah sakit setelah sebelumnya berpikir ia mungkin tidak akan selamat dan telah berada di dunia lain.
“Ma… ma?” Vero mengedarkan pandangan ke sekitar. Ia menemukan Papa dan beberapa orang temannya juga berada di dekatnya.
Mendengar suara Vero, tangis Mamanya pun pecah dan tangan lembut wanita itu mengusap lembut wajah Vero yang di beberapa bagian telah ditempel pelester dan perban.
“Syukurlah kamu udah bangun, Sayang. Maafin Mama ya, Ver. Gara-gara Mama kamu mesti sakit begini. Mama udah takut banget akan kehilangan anak Mama satu-satunya.”
Papanya juga mendekati Vero. Terlihat sedikit air mata menggenang di kedua matanya. “Mulai sekarang kamu jangan pergi kemana-mana lagi sendiri ya, Vero. Mama dan Papa akan selalu siap nemenin kamu kemanapun kamu mau pergi. Dan…”
“… jangan takut kalau nanti kelihatan jadi seperti anak mami. Kamu tetep anak Papa dan Mama yang paling berani, kok,” Papanya melanjutkan ucapannya untuk menenagkan Vero seakan tahu perasaan Vero sebagai anak laki-laki.
“Iya, Bro. Tenang aja, kita nggak akan ngecap lo kayak gitu. Keselamatan lo yang paling penting. Lagian, kejadian hari ini bikin kita-kita sadar kalau kita sebisa mungkin jangan bawa kendaraan sebelum waktunya. Kita juga masih sekolah, kok. Wajar aja kalau masih ditemenin orang tua,” Hendi menambahkan.
“Dan juga untungnya lo make helm SNI, Ver. Kalo enggak wajah rupawan lo udah berubah bentuk jadi nggak karuan deh tuh,” timpal yang lain.
Mendengar ucapan kedua orang tua dan dukungan teman-temannya, Vero pun tertawa kecil meski ia masih merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Saat ini ia tak memedulikan bagaimana keadaan motornya. Vero bersyukur karena ia masih diberikan keselamatan oleh Tuhan, ditambah lagi kedua orang tuanya berjanji akan mengantar Vero kemana pun ia pergi. Itu berarti hubungan Vero dan orang tuanya akan semakin erat.
Ah iya! Karena ia diantar orang tuanya, ia juga tak perlu lagi harus repot-repot menghindari polisi karena belum memiliki SIM.

Tamat


Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’ #SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Hoda Motor dan Nulisbuku.com