Sabtu, 11 Juli 2015

CERPEN: MY PRECIOUS ONE... AUDY




audy-4/4





"Rex, bisakah kau mendonorkan darahmu pada Audy?"
Rex terdiam.
Terdengar suara napas yang berat, seolah menggambarkan keputusasaan dan kesedihan mendalam dari seberang telepon.
"Bisakah untuk sesaat kau menjadi sosok kakak bagi Audy? Lakukanlah ini untuk mama, Rex. Mama memang telah tiada, tapi ia mengorbankan nyawanya demi Audy. Apakah kau ingin membiarkan perjuangan mamamu sia-sia?"
Mendengar mamanya disebut, seketika hati Rex terasa seakan disayat.
"Jangan membawa mama dalam hal ini! Audy pantas menerimanya!"
Tut.Tut.
...
Ya, Audy dan Rex memang bersaudara. Akan tetapi, Rex tak pernah menganggap ia memiliki seorang adik. Ia membenci Audy sejak lahir; saat usianya tujuh tahun, sejak Tuhan memilih untuk menolong Audy daripada menyelamatkan mamanya. Bahkan saat papanya meneleponnya kemarin malam.
"Halo, Rex. Audy kecelakaan."
"..."
"Ia mengalami pendarahan, Rex, dan ia membutuhkan pendonor golongan darah O- sedangkan rumah sakit kehabisan stok darah O-."
"..."
"Rex? Rex? Apa kau mendengar Papa?"
"Oh. Hm."
"Papa tahu kau berdarah O-. Maka dari itu, Papa minta tolong padamu unt-"
"Tidak, Pa."
"Rex!"
"Golongan darahku bukan O-. Saat ini, aku juga sedang sibuk."
"Rex! Audy benar-benar menyayangimu."
"..."
Setelah memutuskan telepon, Rex terduduk. Kepalanya dibenamkan di tangannya.
"Saat ini Audy benar-benar membutuhkanmu, Rex. Mama membutuhkanmu..."

***
"Ah suster, sudah berapa hari sejak operasiku?" tanya Audy pada suster yang baru saja memberikan satu suntikan di lengan kirinya.
Suster itu berpikir. "Hmm... Sekitar enam hari."
"Sudah hampir seminggu tapi kenapa orang itu belum muncul juga?" tanya Audy pada dirinya sendiri.
"Mungkin pendonor itu sudah menemui papamu dan karena ia sibuk, ia tidak bisa menemuimu. Sudah kukatakan padamu 'kan, pendonor itu sangat tampan dan berpenampilan rapi dan… bisa jadi dia adalah seorang selebriti!" ucap suster itu sambil tersipu.
"Ah, melihat wajah suster yang sebahagia itu betul-betul membuatku ingin bertemu dengannya. Pasti dia orang yang sangat tampan. Hmm... dia juga pasti lebih tampan dari Kak Rex," ucap Audy dengan iri.
Klek. Pintu kamar terbuka. Suster dan Audy pun menoleh. Audy terkejut setelah melihat siapa yang masuk.
"Kak Rex!"
Suster itu tak kalah terkejutnya dengan Audy. "Oh, bukankah-"
"Selamat pagi, suster. Wow, meskipun kau sudah bekerja sangat keras, tetapi wajahmu masih tetap cantik. Kau pasti memiliki wajah yang awet muda. Aku sangat berterima kasih kau telah bekerja keras merawat adikku dan... aku ingin berbicara padanya berdua saja. Jadi...” ucap Rex sambil menatap suster itu dan tersenyum.
“Oh, umm... kalau begitu, saya... permisi."
Audy yang polos itu pun sangat gembira melihat kakaknya datang.
"Ah, Aku senang sekali kakak ada di sini. Bagaimana kabarmu? Kau tahu kak, suster bilang seorang pria tampan telah mendonorkan darahnya padaku. Ah, aku ingin sekali bertemu dengan orang itu dan kalau dia mau, aku akan buatkan beratus box kue cokelat kesukaanmu karena..." Audy menghentikan ucapannya saat ia menatap Rex.
"Aku akan memakannya."
“…”
"Aku akan memakan kue cokelatmu. Mulai dari sekarang," ucap Rex sambil tersenyum.
Audy masih tak percaya. Sejak pertama kali membuat kue cokelat untuk Rex empat tahun lalu, baru kali ini Rex mengatakan hal itu.
"Sebetulnya aku pernah memakan kue cokelat buatanmu dan itu sangat enak."
Ucapan Rex membuat Audy tersenyum. Kini senyuman Audy terlihat berbeda. Entah karena Rex sebelumnya tidak pernah sedekat ini melihat adiknya tersenyum entah memang saat itu Audy terlihat... sangat manis. Akan tetapi, satu hal yang saat itu Rex sadari, senyuman itu... senyuman yang sangat Rex rindukan sejak lama. Papanya benar. Semua orang benar. Audy memang memiliki kesamaan dengan mamanya. Wajahnya, kue cokelat buatannya, senyumannya. Hal itu pun kini membuat Rex merasa seakan ia sedang bersama mamanya.
Tiba-tiba, air mata menetes dari pipi adiknya itu.
"Ah, kenapa kau menangis?"
Tanpa terganggu oleh air mata yang jatuh itu, Audy terus menatap Rex.
"Tidak tahu. Aku harusnya merasa bahagia saat kau bilang kau akan mulai memakan kue cokelatku, tetapi aku malah menangis seperti ini. Terima kasih, Kak Rex." Air mata Audy mulai menetes dengan deras.
"Hei, kau tak perlu menangis. Ayolah, kenapa harus menangis di saat bahagia seperti ini? Kau baru saja mengalami semua hal indah. Kemarilah." Tanpa ragu, Rex menarik Audy ke dalam pelukannya. Saat itu, ia tak ingin melihat Audy menangis.
"Cup, cup, sudahlah. Lagipula, sudah kukatakan padamu, aku sudah pernah memakan kue cokelatmu. Jadi kau tak perlu menangis lagi, nanti wajahmu akan cepat tua," ucap Rex sambil menepuk pelan punggung Audy.
Audy langsung melepaskan pelukan Rex. Ia memegangi kedua pipinya. Saat itu juga, Audy berhenti menangis.
"Oh, apakah menangis akan membuatku cepat tua?" tanya Audy dengan raut wajah yang khawatir.
Rex mengangguk.
"Oh tidak!" Audy cepat-cepat mengusap air matanya. Rex pun tertawa kecil melihat tingkah adiknya itu.
"Oh iya Kak Rex, aku punya cerita tentang teman-temanku. Kau tahu kan aku pernah mengatakan padamu bahwa mereka sangat mengidolakanmu. Ah, ada gadis yang bernama Sherly, dia..." Audy pun mulai bercerita dengan semangat.
 "Papa benar, aku tidak perlu menyalahkan Tuhan karena mengambil mama sebab aku masih memiliki sesuatu yang paling berharga yaitu... Audy,” ucap Rex dalam hati.

Jumat, 03 Juli 2015

Puasa, puasa...

ramadhan-girl-chibi-hijab
Selamat puasa semuanyaaaa / Happy fasting all :)



Assalamu'alaikum...
Woooaaahhhhhh, apa kabar readers? Gimana puasa kalian? Semoga lancar ya, Aamin.

Akhirnya bisa juga berkunjung ke blog sendiri setelah sekian lama berkutat sama kegiatan kampus #eeaa (Ramadhan memang bulan penuh berkah :))

Sejujurnya, masih bingung mau "ngisi' apa di blog ini dan sejujurnya juga, gue mau isi dengan tulisan yang bermutu, berkualitas, aktual, tajam dan terpercaya. Akan tetapi, yang menjadi masalah adalah gue masih bingung tulisan bermutu, berkualitas, aktual, tajam dan terpercaya seperti apa yang mau gue tulis (T_T)
Nah, daripada daripada gue terus kebingungan macem bocah ilang yang nyari jalan pulang, akhirnya tercetuslah ide untuk share kalau puasa gue udah bolong tujuh. Tujuh. Padahal gue berharap di bulan puasa ini 'bulan' gue nggak dateng dulu.
Oke lah, karena saat ini gue nulisnya pas detik-detik menjelang waktu Isya dan shalat Tarawih, sepertinya gue akan mengakhiri tulisan gue di sini.
Kalau ada yang mau share puasa kalian udah batal berapa, yuk cus tulis di kolom komentar (Ahaaaaa~~)

* Jangan lupa ikut shalat Isya dan Tarawih berjamaah ya, biar puasanya makin makin makin berkah :)

                                                                          

Minggu, 01 Maret 2015

Learn From Ants: Hewan yang tak memiliki akal saja masih memiliki hati nurani. Bagaimana dengan manusia?



antony by Milla Cahya
Ant-Antony.jpg

Pernah mendengar berita tentang orang-orang yang mengabaikan anak kecil saat anak kecil itu terlindas mobil beberapa kali di negara "C"? Sebenarnya berita itu memang berita yang agak lama, namun kembali saya ingat karena aktivitas “ngobrol wanita” dua hari yang lalu bersama dengan teman-teman saya, saat jam istirahat di dalam kelas. Awalnya kami ngobrol-ngobrol tentang pembegalan yang saat ini marak terjadi dan Jakarta yang terasa semakin menyeramkan, lalu nyerempet ke masalah manusia yang tidak berperikemanusiaan, dan jadilah kami membicarakan berita menyedihkan itu (Yaa... Namanya juga wanita. Ngobrol sedikit dan hanya dalam aspek tertentu, pasti lama kelamaan obrolan itu sudah merembet ke berbagai aspek. Apalagi kalo sudah ngobrol di bawah pohon rambutan #???)
Eh, tapi bukan berita itu yang ingin saya bahas di artikel ini. Memang bukan, tetapi ada keterkaitannya, kok. Tenang, saya bukan tipe penulis yang membuat pembaca menghabiskan waktu untuk membaca artikel yang tidak memiliki keterkaitan antar paragrafnya (efek pelajaran academic writing... Hehe)
Jadi, cerita bermula ketika saya ingin buang air kecil di dalam kamar mandi di samping mushala. Di dinding kamar mandi itu, ada barisan semut hitam yang dekat dengan bak air (Untungnya barisan itu bukan barisan semut hitam yang tebal karena pasti bakal membuat saya merinding disco... Iih).  Barisan semut hitam itu memang merupakan hal yang biasa, benar kan? (Manusia aja bisa baris, masa semut enggak). Akan tetapi, pelajaran yang sangat berharga justru akan datang dari barisan semut hitam itu.
(Lanjut ke cerita tadi ya…)
Saat saya akan mencelupkan gayung untuk menciduk air di dalam bak, dua ekor semut dari barisan itu terjatuh {Oh iya, ukuran kedua semut itu berbeda loh. Satu berukuran seperti semut hitam kecil pada umumnya, satu lagi berukuran seperti semut bako? (baqo/baqa/apalah itu namanya) tapi dengan ukuran yang lebih kecil. Nah, untuk memudahkan cerita, saya akan menggunakan sebutan "semut kecil" dan "semut besar". Oke?}. Gayung saya taruh di tempat semula dan saya pun memperhatikan kedua semut yang berenang untuk mencapai tepian bak itu. Insting penyayang hewan saya on dan langsung saja saya mencelupkan jari telunjuk saya untuk membantu dua hewan mungil itu. Pertama, saya membantu semut kecil dan ia pun sudah berada di tepian bak. Akan tetapi, saat saya akan membantu si semut besar, semut kecil yang telah berada di tepian bak itu berbalik ke arah si semut besar. Ia kembali ke tepian air bak dan terlihat seperti sedang memanggil si semut besar. Dua detik kemudian, si semut kecil berjalan bolak-balik, persis seperti orang yang sedang galau dan jalan mondar-mandir. Tak butuh waktu lama, saya dibuat takjub dengan kedatangan beberapa semut kecil dari barisan semut di dinding itu ke tepian bak tempat semut kecil berada. Tiba-tiba salah satu dari mereka menceburkan dirinya ke dalam bak dan menghampiri si semut besar. Apa yang terjadi selanjutnya?... Subhanallah! Ternyata semut kecil yang menceburkan dirinya itu mendorong si semut besar untuk mencapai tepian bak. Benar-benar seperti dalam film pahlawan!
Saya terus menunggu sampai mereka berdua selamat sampai ke tepian bak karena penasaran sekaligus takjub, tetapi entah mengapa si semut besar sulit sekali mendaki tepian bak yang tak sampai setengah senti padahal si semut kecil sebelumnya bisa dengan mudah mencapai tepian bak. Tak tahan melihat hewan kesusahan terlau lama (Cie...), saya akhirnya memasukkan telunjuk saya ke dalam bak dan membantu semut besar mencapa tepian. Setelah sampai ke tepian, semut kecil lainnya mulai mengerubungi semut besar itu bak orang-orang yang menemui rekannya setelah sekian lama tak bertemu. Kejutan lainnya tak selesai sampai di situ. Jumlah semut kecil yang awalnya mengerubungi si semut besar hanya ada sekitar belasan, lama kelamaan menjadi puluhan, bahkan membentuk cabang barisan baru. Beberapa saat kemudian, semut besar masuk ke dalam barisan dengan para semut kecil yang mengikutinya dan terlihat seperti sedang mengawal si semut besar. Setelah mengamati kejadian itu, saya baru sadar kalau saya tidak jadi buang air kecil.
Pengalaman di atas benar-benar pengalaman yang pertama kali saya alami. Benar-benar kejadian yang sangat menakjubkan. Saya memikirkan bagaimana semut yang tadinya hanya ada satu di tepian bak air lama-lama menjadi banyak? Mereka bahkan tidak bisa berteriak untuk meminta bantuan, bukan. Melihat hewan yang tak mempunyai akal saja masih memiliki hati nurani untuk saling membantu, membuat saya kembali merefleksikan diri sendiri dan berpikir bahwa betapa rendahnya manusia jika tidak saling membantu satu sama lain, bahkan tidak memberikan perhatian dan sedikit tenaganya untuk menolong anak kecil seperti berita yang saya singgung di awal artikel, padahal manusia memiliki akal dan merupakan makhluk yang kedudukannya paling tinggi di antara makhluk lain. Saya juga berterima kasih kepada Allah SWT yang sudah membuat tidak ada orang lain yang ingin ke kamar mandi tempat saya ingin buang air kecil. Kalau ada orang lain yang masuk saat pengamatan saya terhadap barisan semut itu belum selesai, tentu saya tidak akan mendapatkan pelajaran dan pengalaman yang sangat berharga ini.

Senin, 16 Februari 2015

Finally... Archer is Here!

Aloha Readers!

Welcome to my (other) new blog.

Here I am. Archer The Writer.

Sebenernya blog ini diciptakan sekitar seminggu yang lalu, tapi karena masih ngerjain beberapa DL tugas kuliah (Ehem!), the first articel was released today. Karena ini adalah artikel pertama, jadi gue akan nyeritain pengalaman hidup gue bersama blog gue yang lain dan kisah dibalik pembuatan nama blog ini. 

Sebenernya kalau boleh di itung, Archer The Writer adalah blog ke-sekiannya gue. Gue inget, pertama kali gue bikin blog adalah waktu gue duduk di bangku SMP, sekitar kelas delapan. Saat itu, di mata pelajaran TIK, gue bikin blog karena order dari guru untuk ngerjain tugas. Gue pun masih belum ngerti gunanya blog itu untuk apaan. Boro-boro ngerti buat apa, cara bikin dan manage blog aja gue macem orang kolot yang nggak ngerti komputer. Pusing bikin blog. Setelah blog pertama tercipta dan tugas udah kelar, yaudahlah... Bhaiy! Blog pertama gue terlupakan begitu aja. Waktu pun berlalu dan kecerdasan serta wawasan wiyata mandala gue bertambah. Setelah tau sedikit-sedikit tentang blog, gue mencoba bikin beberapa blog baru dan... Haha! Nasib mereka juga ternyata nggak jauh beda dari blog pertama gue. "Terlupakan". Sebab yang paling banyak sih karena gue lupa password (ini pun terjadi karena gue masih males dan bingung mau di isi apa blog gue. Maka dari itu, gue jarang 'banget' untuk buka blog dan akhirnya... terjadilah hal yang bernama "lupa password").

Oke, gue akan move on dari kenangan buruk tentang blog(s) gue. Sekarang gue udah punya Archer The Writer ini. Kenapa gue menamakan blog baru gue dengan nama "Archer The Writer"? Bagi kalian yang main ce-o-ce alias Clash of Clans atau dalam bahasa Indonesianya adalah konflik kelompok, pasti tau siapa itu Archer. Bagi yang nggak tau...baiklah, gue akan kasih tau sedikit. Archer adalah salah satu karakter yang ada di COC. Dia adalah seorang pemanah imut dan gue sukaaaaaa banget sama karakter itu. Nggak perlu gue jelasin lebih detail lagi apa itu COC. Kalian bisa seeking information tentang COC di Eyang Google atau yang lebih bagusnya lagi download aja game itu sendiri. Mainkan dan rasakan keasyikannya...

Sense of belonging terhadap blog ini membuat gue mau membayar dosa atas ketidakpedulian gue terhadap blog-blog yang lalu (Tsaahhh). Gue akan mencoba untuk merawat Acrher The Writer karena blog ini tercipta dari karakter yang gue suka :) Seperti kebanyakan orang bilang, kita pasti lebih merawat dan menjaga hal-hal yang di sukai. Hm... We'll see later.

"Archer The Writer... may I always remember that I own you"