Minggu, 01 Maret 2015

Learn From Ants: Hewan yang tak memiliki akal saja masih memiliki hati nurani. Bagaimana dengan manusia?



antony by Milla Cahya
Ant-Antony.jpg

Pernah mendengar berita tentang orang-orang yang mengabaikan anak kecil saat anak kecil itu terlindas mobil beberapa kali di negara "C"? Sebenarnya berita itu memang berita yang agak lama, namun kembali saya ingat karena aktivitas “ngobrol wanita” dua hari yang lalu bersama dengan teman-teman saya, saat jam istirahat di dalam kelas. Awalnya kami ngobrol-ngobrol tentang pembegalan yang saat ini marak terjadi dan Jakarta yang terasa semakin menyeramkan, lalu nyerempet ke masalah manusia yang tidak berperikemanusiaan, dan jadilah kami membicarakan berita menyedihkan itu (Yaa... Namanya juga wanita. Ngobrol sedikit dan hanya dalam aspek tertentu, pasti lama kelamaan obrolan itu sudah merembet ke berbagai aspek. Apalagi kalo sudah ngobrol di bawah pohon rambutan #???)
Eh, tapi bukan berita itu yang ingin saya bahas di artikel ini. Memang bukan, tetapi ada keterkaitannya, kok. Tenang, saya bukan tipe penulis yang membuat pembaca menghabiskan waktu untuk membaca artikel yang tidak memiliki keterkaitan antar paragrafnya (efek pelajaran academic writing... Hehe)
Jadi, cerita bermula ketika saya ingin buang air kecil di dalam kamar mandi di samping mushala. Di dinding kamar mandi itu, ada barisan semut hitam yang dekat dengan bak air (Untungnya barisan itu bukan barisan semut hitam yang tebal karena pasti bakal membuat saya merinding disco... Iih).  Barisan semut hitam itu memang merupakan hal yang biasa, benar kan? (Manusia aja bisa baris, masa semut enggak). Akan tetapi, pelajaran yang sangat berharga justru akan datang dari barisan semut hitam itu.
(Lanjut ke cerita tadi ya…)
Saat saya akan mencelupkan gayung untuk menciduk air di dalam bak, dua ekor semut dari barisan itu terjatuh {Oh iya, ukuran kedua semut itu berbeda loh. Satu berukuran seperti semut hitam kecil pada umumnya, satu lagi berukuran seperti semut bako? (baqo/baqa/apalah itu namanya) tapi dengan ukuran yang lebih kecil. Nah, untuk memudahkan cerita, saya akan menggunakan sebutan "semut kecil" dan "semut besar". Oke?}. Gayung saya taruh di tempat semula dan saya pun memperhatikan kedua semut yang berenang untuk mencapai tepian bak itu. Insting penyayang hewan saya on dan langsung saja saya mencelupkan jari telunjuk saya untuk membantu dua hewan mungil itu. Pertama, saya membantu semut kecil dan ia pun sudah berada di tepian bak. Akan tetapi, saat saya akan membantu si semut besar, semut kecil yang telah berada di tepian bak itu berbalik ke arah si semut besar. Ia kembali ke tepian air bak dan terlihat seperti sedang memanggil si semut besar. Dua detik kemudian, si semut kecil berjalan bolak-balik, persis seperti orang yang sedang galau dan jalan mondar-mandir. Tak butuh waktu lama, saya dibuat takjub dengan kedatangan beberapa semut kecil dari barisan semut di dinding itu ke tepian bak tempat semut kecil berada. Tiba-tiba salah satu dari mereka menceburkan dirinya ke dalam bak dan menghampiri si semut besar. Apa yang terjadi selanjutnya?... Subhanallah! Ternyata semut kecil yang menceburkan dirinya itu mendorong si semut besar untuk mencapai tepian bak. Benar-benar seperti dalam film pahlawan!
Saya terus menunggu sampai mereka berdua selamat sampai ke tepian bak karena penasaran sekaligus takjub, tetapi entah mengapa si semut besar sulit sekali mendaki tepian bak yang tak sampai setengah senti padahal si semut kecil sebelumnya bisa dengan mudah mencapai tepian bak. Tak tahan melihat hewan kesusahan terlau lama (Cie...), saya akhirnya memasukkan telunjuk saya ke dalam bak dan membantu semut besar mencapa tepian. Setelah sampai ke tepian, semut kecil lainnya mulai mengerubungi semut besar itu bak orang-orang yang menemui rekannya setelah sekian lama tak bertemu. Kejutan lainnya tak selesai sampai di situ. Jumlah semut kecil yang awalnya mengerubungi si semut besar hanya ada sekitar belasan, lama kelamaan menjadi puluhan, bahkan membentuk cabang barisan baru. Beberapa saat kemudian, semut besar masuk ke dalam barisan dengan para semut kecil yang mengikutinya dan terlihat seperti sedang mengawal si semut besar. Setelah mengamati kejadian itu, saya baru sadar kalau saya tidak jadi buang air kecil.
Pengalaman di atas benar-benar pengalaman yang pertama kali saya alami. Benar-benar kejadian yang sangat menakjubkan. Saya memikirkan bagaimana semut yang tadinya hanya ada satu di tepian bak air lama-lama menjadi banyak? Mereka bahkan tidak bisa berteriak untuk meminta bantuan, bukan. Melihat hewan yang tak mempunyai akal saja masih memiliki hati nurani untuk saling membantu, membuat saya kembali merefleksikan diri sendiri dan berpikir bahwa betapa rendahnya manusia jika tidak saling membantu satu sama lain, bahkan tidak memberikan perhatian dan sedikit tenaganya untuk menolong anak kecil seperti berita yang saya singgung di awal artikel, padahal manusia memiliki akal dan merupakan makhluk yang kedudukannya paling tinggi di antara makhluk lain. Saya juga berterima kasih kepada Allah SWT yang sudah membuat tidak ada orang lain yang ingin ke kamar mandi tempat saya ingin buang air kecil. Kalau ada orang lain yang masuk saat pengamatan saya terhadap barisan semut itu belum selesai, tentu saya tidak akan mendapatkan pelajaran dan pengalaman yang sangat berharga ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar