![]() |
| Ant-Antony.jpg |
Pernah mendengar berita tentang orang-orang yang mengabaikan anak kecil
saat anak kecil itu terlindas mobil beberapa kali di negara "C"? Sebenarnya berita itu memang berita yang agak lama, namun kembali saya ingat
karena aktivitas “ngobrol wanita” dua
hari yang lalu bersama dengan teman-teman saya, saat jam istirahat di dalam
kelas. Awalnya kami ngobrol-ngobrol tentang pembegalan yang saat ini marak
terjadi dan Jakarta yang terasa semakin menyeramkan, lalu nyerempet ke masalah
manusia yang tidak berperikemanusiaan, dan jadilah kami membicarakan berita menyedihkan
itu (Yaa... Namanya juga wanita. Ngobrol sedikit dan hanya dalam aspek
tertentu, pasti lama kelamaan obrolan itu sudah merembet ke berbagai aspek.
Apalagi kalo sudah ngobrol di bawah pohon rambutan #???)
Eh, tapi bukan berita itu yang ingin saya bahas di artikel ini. Memang
bukan, tetapi ada keterkaitannya, kok. Tenang, saya bukan tipe penulis yang
membuat pembaca menghabiskan waktu untuk membaca artikel yang tidak memiliki
keterkaitan antar paragrafnya (efek pelajaran academic writing... Hehe)
Jadi, cerita bermula ketika saya ingin buang air kecil di dalam kamar
mandi di samping mushala. Di dinding kamar mandi itu, ada barisan semut hitam
yang dekat dengan bak air (Untungnya barisan itu bukan barisan semut hitam yang
tebal karena pasti bakal membuat saya merinding disco... Iih). Barisan semut hitam itu memang merupakan hal
yang biasa, benar kan? (Manusia aja bisa baris, masa semut enggak). Akan
tetapi, pelajaran yang sangat berharga justru akan datang dari barisan semut
hitam itu.
(Lanjut ke cerita tadi ya…)
Saat saya akan mencelupkan gayung untuk menciduk air di dalam bak, dua
ekor semut dari barisan itu terjatuh {Oh iya, ukuran kedua semut itu berbeda
loh. Satu berukuran seperti semut hitam kecil pada umumnya, satu lagi berukuran
seperti semut bako? (baqo/baqa/apalah itu namanya) tapi dengan ukuran yang
lebih kecil. Nah, untuk memudahkan cerita, saya akan menggunakan sebutan
"semut kecil" dan "semut besar". Oke?}. Gayung saya taruh
di tempat semula dan saya pun memperhatikan kedua semut yang berenang untuk
mencapai tepian bak itu. Insting penyayang hewan saya on dan langsung saja saya mencelupkan jari telunjuk saya untuk
membantu dua hewan mungil itu. Pertama, saya membantu semut kecil dan ia pun
sudah berada di tepian bak. Akan tetapi, saat saya akan membantu si semut
besar, semut kecil yang telah berada di tepian bak itu berbalik ke arah si
semut besar. Ia kembali ke tepian air bak dan terlihat seperti sedang memanggil
si semut besar. Dua detik kemudian, si semut kecil berjalan bolak-balik, persis
seperti orang yang sedang galau dan jalan mondar-mandir. Tak butuh waktu lama,
saya dibuat takjub dengan kedatangan beberapa semut kecil dari barisan semut di
dinding itu ke tepian bak tempat semut kecil berada. Tiba-tiba salah satu dari
mereka menceburkan dirinya ke dalam bak dan menghampiri si semut besar. Apa
yang terjadi selanjutnya?... Subhanallah! Ternyata semut kecil yang menceburkan
dirinya itu mendorong si semut besar untuk mencapai tepian bak. Benar-benar
seperti dalam film pahlawan!
Saya terus menunggu sampai mereka berdua selamat sampai ke tepian bak karena
penasaran sekaligus takjub, tetapi entah mengapa si semut besar sulit sekali
mendaki tepian bak yang tak sampai setengah senti padahal si semut kecil
sebelumnya bisa dengan mudah mencapai tepian bak. Tak tahan melihat hewan
kesusahan terlau lama (Cie...), saya akhirnya memasukkan telunjuk saya ke dalam
bak dan membantu semut besar mencapa tepian. Setelah sampai ke tepian, semut
kecil lainnya mulai mengerubungi semut besar itu bak orang-orang yang menemui
rekannya setelah sekian lama tak bertemu. Kejutan lainnya tak selesai sampai di
situ. Jumlah semut kecil yang awalnya mengerubungi si semut besar hanya ada
sekitar belasan, lama kelamaan menjadi puluhan, bahkan membentuk cabang barisan
baru. Beberapa saat kemudian, semut besar masuk ke dalam barisan dengan para
semut kecil yang mengikutinya dan terlihat seperti sedang mengawal si semut
besar. Setelah mengamati kejadian itu, saya baru sadar kalau saya tidak jadi
buang air kecil.
Pengalaman di atas benar-benar pengalaman yang pertama kali saya alami. Benar-benar
kejadian yang sangat menakjubkan. Saya memikirkan bagaimana semut yang tadinya
hanya ada satu di tepian bak air lama-lama menjadi banyak? Mereka bahkan tidak
bisa berteriak untuk meminta bantuan, bukan. Melihat hewan yang tak
mempunyai akal saja masih memiliki hati nurani untuk saling membantu, membuat saya kembali merefleksikan diri
sendiri dan berpikir bahwa betapa rendahnya manusia jika tidak saling membantu
satu sama lain, bahkan tidak memberikan perhatian dan sedikit tenaganya untuk
menolong anak kecil seperti berita yang saya singgung di awal artikel, padahal
manusia memiliki akal dan merupakan makhluk yang kedudukannya paling tinggi di
antara makhluk lain. Saya juga berterima kasih kepada Allah SWT yang sudah
membuat tidak ada orang lain yang ingin ke kamar mandi tempat saya ingin buang
air kecil. Kalau ada orang lain yang masuk saat pengamatan saya terhadap
barisan semut itu belum selesai, tentu saya tidak akan mendapatkan pelajaran
dan pengalaman yang sangat berharga ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar